Recent Post

Jakarta – Kasus Dubai World memacu investor mencari investasi aman. Saat bersamaan, komoditas emas pun memucat, anjlok 5%. Namun, ini adalah momentum membeli logam mulia tersebut.
“Turunnya harga emas Jumat kemarin, membuka peluang bagi pembeli,“ ujar Janet Kong, analis di Goldman Sachs Asia, kemarin. “Dalam volume perdagangan yang rendah, emas telah mengalami penjualan secara agresif. Ini merupakan peluang beli yang menarik.”
Menurutnya, saham berdasarkan pasar future, diprediksi masih akan terkoreksi, dan hal ini dapat menekan harga komoditas lebih rendah lagi. Namun, harga emas dinilai telah mengalami pelemahan terburuknya. “Pasar sangat likuid, dan kami yakin aksi jual telah berakhir,” paparnya.
Lebih lanjut ia memaparkan, , meski pasar future AS dibuka melemah, namun tidak terimbas kasus Dubai, sebesar bursa Eropa. “Kita dapat melihat beberapa penyesuaian harga ketika pasar AS dibuka. Aksi beli akan mengangkat kembali harga-harga,” paparnya.
Kabar tentang kegagalan utang Dubai World, Jumat (27/11) kemarin, telah menekan pasar keuangan. Bursa saham anjlok dipicu koreksi saham berbasis finansial. Harga komoditas pun terguling atas aksi investor mencari aset aman dalam dolar dan uang tunai. “Pasar bereaksi terhadap berita dari Dubai,” ujar Bernard Sin, kepala perdagangan valas dan logam di MKS Finance SA, Jenewa, Swiss.
Dua perusahaan investasi di bawah Dubai World mengumumkan penundaan pembayaran miliaran dolar utang yang jatuh tempo. Badan usaha milik negara itu memiliki kewajiban total US$59 miliar dari utang Emirat Arab US$80 miliar. Hal itu menyulut kekhawatiran default lebih besar dan mendorong aksi sell-off aset berisiko seperti komoditi dan saham.
Harga emas pun langsung jatuh hampir 5% untuk satu pekan terendah di bawah US$1.140 per ons. Spot emas menyentuh US$1,136.80 per ounce, terendah sejak 16 November, dibandingkan US$1,192.60 hari sebelumnya, ketika logam mulia mencapai angka tertinggi di US$1,194.90.
Di Asia, harga spot jatuh lebih dari 2% setelah mencetak rekor US$1.195 per ounce sehari sebelumnya. Spot di Jepang tercatat US$1.169,30 per ounce, jatuh US$23,30 dari penutupan sebelumnya di New York. Sedangkan di pasar Hong Kong, harga emas ditutup di US$1.145,00 per ounce, turun dari US$1.187,50.
Emas, yang memiliki status safe-haven dilanda aksi jual, karena penguatan dolar dari level terendah dalam 15 bulan terakhir, menyebabkan logam mulia itu menjadi mahal bagi pemegang valuta non-dolar.
Logam berharga lainnya di pasar London Metal Exchange juga tergelincir. Perak terpukul dalam dua pekan terendahnya di US$ 17,66 per ons, sementara platinum dan paladium menyentuh satu pekan terendah sebesar US$1,418.50 dan US$351 per ons masing-masing.
Sedangkan harga minyak mentah jatuh ke level enam pekan terendahnya, di bawah US$75 per barel. Padahal, harga minyak ini baru saja jatuh US$4, lebih dari 5% di bawah penutupan hari sebelumnya.
Pada akhir pekan ini, kontrak utama minyak light merosot hingga US$4 menjadi US$74,37 per barel. Adapun minyak London Brent jatuh US$1,35 ke level US$75,65 per barel.
Tapi investor meyakini, pelemahan dolar akan berlanjut hingga tahun depan, seiring aksi bank sentral AS yang masih mempertahankan program pembelian aset terkait mortgage hingga akhir Maret 2010. Spekulasi suku bunga acuan The Fed di level terendahnya untuk beberapa waktu, membatasi return investasi AS. Daya tarik dolar AS pun menurun.
“Harga logam akan menguat seiring harga emas dalam setahun mendatang, atas membaiknya permintaan industri dan naiknya biaya produksi,” ujar laporan Standard Chartered.
Harga emas telah naik 32% tahun ini, seiring pembelian bank sentral dan investor untuk melindungi investasi dari kemungkinan devaluasi mata uang dan inflasi. “Bank sentral akan mengingatkan pembeli tahun depan. Ini adalah pertama kalinya selama lebih dari dua dekade,” ungkap laporan Standard Chartered Plc. [mdr] foto & berita inilah.com
Berita selanjutnya:
A
B
C
Silahkan lihat:
gerai keuangan gerai properti gerai otomotif gerai industri gerai promosi gerai iklan laris gerai





